Tarbiyah Amaliyah Ajarkan Santri Akhir Konsep Belajar dengan Mengajar

Khansa Nabila Suwardhika saat menjelaskan kosa kata bahasa Inggris menggunakan media gambar

CONDONG-ONLINE.COM, Tasikmalaya – Dalam kesempatan Taujihat dan Irsyadat Pembekalan Tarbiyah Amaliyah Santri Akhir KMI yang berlangsung selama lima hari, mulai hari Sabtu-Selasa (6-9/2/2021), Drs. KH. Endang Rahmat yang merupakan Wakil Pimpinan Pesantren Condong berpesan, “Jadi apa pun kalian ke depannya, jangan lupa jadi guru, minimal jadi guru diri pribadi dan anak-anak kalian. Karena guru adalah MLP (Multi Level Pahala)”.

Pesantren Condong sadar bahwa tidak semua santri-santrinya kelak akan berprofesi sebagai guru. Akan tetapi, para Kiai dan Asatidz pondok juga sadar, bahwa jadi apa pun santri-santrinya nanti, mereka tetap harus memiliki karakter ustadziyah baik bagi diri pribadi maupun anak-anak mereka di masa depan.  

Sejalan dengan hal tersebut, tidak ketinggalan Pesantren Condong memegang teguh konsep bahwasanya sebaik-baik belajar adalah dengan mengajar. Konsep ini masih dan akan terus diterapkan dalam pribadi Asatidz dan ustadzat pondok terutama bagi yang baru-baru terjun di dunia keguruan. Dengan “dipaksa” menjadi guru, mengajari murid-muridnya, secara otomatis seorang guru dituntut untuk belajar lagi dan lagi, supaya wawasan mereka lebih luas dan mampu memberikan yang terbaik bagi muridnya. Inilah bukti bahwa dengan mengajar kita akan terus dituntut untuk belajar.

Beberapa hal di atas pula yang melatarbelakangi program Tarbiyah Amaliyah di Pesantren Condong akan terus digalakan dan dijadikan agenda tahunan bagi santri akhir. Selain itu, Tarbiyah Amaliyah juga menjadi salah satu persyaratan kelulusan santri akhir di samping serangkaian ujian yang akan mereka hadapi pada semester dua.    

Tarbiyah Amaliyah sendiri merupakan program praktik mengajar menggunakan bilingual language yakni bahasa Arab dan Inggris yang diperuntukan bagia santri akhir kelas XII. Dulu program ini bernama Amaliyah Tadris, kini istilahnya berubah menjadi Tarbiyah Amaliyah. Dalam kegiatan ini, santri akhir belajar mengajar sambil dianalisis dan diamati oleh teman dan pembimbing (musyrif).

Tahun ini meski di masa pandemi, Tarbiyah Amaliyah tetap mampu terlaksana dengan baik walaupun sedikit mundur dari jadwal semestinya. Hari Senin, (22/2/2021) menjadi awal Tarbiyah Amaliyah perdana dilaksanakan. Dari 324 santri akhir kelas XII, terpilih empat orang yang tampil pertama sebagai contoh bagi teman-temannya yang lain. Mereka adalah Ari Nurhidayat kelas XII IPS C dan Yunita Ayudia Anjani kelas XII MIPA A yang mengampu mata pelajaran berbahasa Arab yakni Mutholaah, serta Farel Lutfi Firdaus kelas XII MIPA F dan Khansa Nabila Suwardhika kelas XII MIPA B untuk mata pelajaran English Reading.

Farel Lutfi Firdaus meminta dua muridnya untuk menjelaskan materi di depan

Pelaksanaan Tarbiyah Amaliyah perdana santri akhir putri berlokasi di Auditorium Pesantren Condong. Mengingat ruangan yang luas dengan peserta yang banyak, mudarrisah pun diwajibkan menggunakan clip on mic. Sedangkan untuk santri akhir putra berlokasi di gedung Ibnu malik lantai 2.

Seperti biasa, pelajaran berbahasa Arab ditempatkan pada jam kedua, yakni pukul 07.40-08.20 WIB, sedangkan pelajaran berbahasa Inggris berlangsung pada jam kelima, yakni pukul 10.00-10.40 WIB. Masing-masing pelajaran memiliki durasi sebanyak 40 menit. Dalam waktu tersebut, peserta Tarbiyah Amaliyah harus mampu menyampaikan semua thoriqoh dan materi pelajaran kepada murid-muridnya yang berasal dari santri SMP kelas VIII. Di samping itu, santri akhir lainnya beserta para musyrif akan mengamati secara langsung untuk mencatat hal-hal apa saja yang terlewat atau kurang tepat dalam proses mengajar seorang mudarris.

Setelah proses mengajar usai, seluruh santri akhir dituntut untuk mencatat naqd (kritik) di lembar kertas yang disediakan panitia. Barulah setelahnya sidang naqdut-Tadris bersama musyrif pun dilaksanakan. Kegiatan ini menghabiskan waktu dua hari satu malam, dari hari Senin-Selasa (22-23/2/2021).

Naqdut-Tadris santri Akhir Rojul bersama Musyrif

Alhamdulillah santri kelas enam terlihat sangat antusias dengan kegiatan Tarbiyah Amaliyah tahun ini walaupun di masa pandemi.” Tutur Ustadz M. Syahrul Zaky Romadhoni, M.A.Ed. yang menjadi musyrif senior untuk mata pelajaran Bahasa Inggris.

“Ketika tahu saya terpilih menjadi peserta pertama, rasanya campur aduk ada rasa bangga, deg-degan dan sedih jadi satu gitu. Terus waktu lihat audience dari mulai adik kelas, temen, dan Ustadzat itu rasanya nerveus dan malu sih. Tapi udahnya berasa jadi plong.” Ungkap Khansa Nabila Suwardhika saat diwawancarai tim Condong Online setelah kegiatan Naqdut-Tadris, Senin (22/2/2021).

Selain mengenalkan konsep belajar dengan mengajar, Tarbiyah Amaliyah juga mampu menjadi ajang uji nyali, uji pengetahuan, dan uji pemahaman bagi santri akhir. Diharapkan, dengan mengikuti kegiatan ini, para santri memiliki bekal dan pengalaman yang cukup dalam menghadapi ujian-ujian lainnya di masa yang akan datang.[]

News and Event / News    Dibaca 192x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah condong online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website