Perdalam Wawasan Sejarah Islam, Mahasiswa SPI STIABI Menjiyarahi Makam Walisongo

Mahasiswa bertawasul di Makam Kyai Sholeh Darat Semarang (Foto: Dok.Condong Online)

CONDONG-ONLINE.COM, Tasikmalaya – Kamis-Minggu (11-14/11/21) mahasiswa semester lima prodi Sejarah Peradaban Islam (SPI) STIABI Riyadul ‘Ulum melaksankan praktikum lapangan dengan berjiyarah ke makam Walisongo dan makam para wali lainnya di Provinsi Jawa Tengah, tepatnya daerah Jepara, Semarang, Mantingan dan Kudus. Kegiatan ini merupakan program tahunan kampus yang dilaksankan di prodi SPI dengan harapan mahasiswa mendapatkan wawasan sejarah yang lebih luas secara langsung. Situs yang dikunjungi pada praktikum kali ini diantaranya, makam Sunan Muria di Kudus, makam Nyi Kalinyamat dan Sunan Hadirinn di Mantingan, makam Sunan Nyamplungan atau Syekh Amir Hasan di Pulau Karimunjawa, dan makam Syekh Sholeh Darat di Semarang.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh mahasiswa SPI semester lima dan beberapa dosen yang ikut membimbing diantaranya bapak Rezza Fauzi Muhammad Fahmi, M.Hum. sebagai Kaprodi SPI, bapak Irfan Iskandar, M.Hum. dan Bapak H. Deden Gumilang M.N, M.Hum. sebagai dosen SPI. Sebelum keberangkatan, para mahasiswa dan juga para dosen melakukan upacara pelepasan bersama Pimpinan Pondok KH. Diding Darul Falah dan Ketua STIABI Muhammad Ridwan, M.Pd. di lapangan Pondok Pesantren Riyadlul ‘Ulum.

Dalam sambutannya, pimpinan pondok menyebutkan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu ijtihad untuk memperluas pengetahuan terutama mengenai sejarah islam. Beliau pun berpesan “Niatkan perjalanan ini sebagai ibadah, dan jangan lupa berdoa di sepanjang perjalanan!” Tak lupa juga sambutan dari ketua STIABI Riyadlul ‘Ulum yang menyampaikan  “Kita itu harus mempunyai rasa penasaran, oleh karena itu ketika berjiyarah tanyakan dan timbulkan rasa penasaran kalian sebagai seorang mahasiswa.” Ditutup dengan pembacaan doa yang dibawakan oleh H.Deden Gumilang M.N, M.Hum. kemudian dilanjut dengan perfotoan bersama. Praktikum mahasiswa SPI semester 5 ini berangkat tepat pada hari Kamis pukul 13.00 WIB.

Perfotoan Masiswa SPI sebelum keberangkatan Praktikum Lapangan (Foto: Dok.Condong Online)

Susunan kegiatan yang dilakukan mahasiswa yakni berjiyarah ke makam-makam dengan bertawasul yang dilanjutkan dengan wawancara mengenai sejarah para tokoh yang makamnys dikunjungi. Kunjungan pertama ialah makam Kyai Sholeh Darat di Semarang, secara singkat sosok Kyai Sholeh Darat ini merupakan guru dari tokoh-tokoh terkemuka diantaranya Ibu Kartini, Hasyim Asy’ari dan KH.Ahmad Dahlan. Kyai Sholeh Darat telah belajar di Negara Arab dan setelahnya beliau kembali ke Indonesia untuk menyebarkan ajarannya yakni agama Islam. Makam beliau disandingkan dengan makam sang istri.

Kunjungan kedua yakni Makan Sunan Nyamplungan atau Syekh Amir Hasan di Pulau Karimunjawa, perjalanan yang mahasiswa tempuh menuju tempat tersebut yakni dengan menyebrangi lautan selama 2 jam 30 menit dari Pelabuhan Jepara. “Menurut kuncen yang hadir mengantar perjalanan kami Sunan Nyamplungan ini merupakan putra dari Sunan Muria Kudus. Dimana beliau merupakan seseorang yang ditugaskan untuk menyebarkan agama islam di pulau kecil Bernama Karimunjawa.” Ujar salah satu mahasiswa.

Terdapat sebuah mitos mengenai tiga kayu yang ada di pulau Karimunjawa. Diantaranya kayu Stigi, kayu Dewadaru dan kayu Kalimasada. Menurut mitos yang tersebar di masyarakat Karimunjawa, tiga kayu ini merupakan kayu Khas Pulau Karimun yang dibawa oleh Sunan Nyamplungan yang mana khasiat dari kayu-kayu ini ialah mampu menjadi obat berbagai penyakit, penangkal malapetaka dan masih banyak khasiat lainnya. Yang lebih menarik perhatian ialah ketiga kayu ini hanya dapat tumbuh di pulau Karimunjawa.

Makam Nyi Kalinyamat dan Sunan Hadiriin (Foto: Dok.Condong Online)

Setelah mengunjungi makam Sunan Nyamplungan, perjalanan berlanjut menuju makam Sunan Nyi Kalinyamat dan Sunan Hadiriin di Mantingan, Jawa Tengah. Nyi Kalinyamat ini merupakan cucu Raden Patah dari pasangan suami istri Raden Trenggono dan Rr. Purbayan. Di makam ini beliau disandingakan dengan makam suaminya yakni Sunan Hadiriin, menurut pemaparan kuncen yang hadir di lokasi.

Selanjutnya para mahasiswa melanutkankan jiyarah ke makam Sunan Muria di Kudus. Sebelum memasuki makam utama Sunan Muria, pemandangan bangunan wilayah makam salah satu Walisongo ini menakjubkan mata dengan arsitekturnya yang antik nan indah. Tak luput dari pemandangan tersebut, sejarah salah satu Walisongo ini juga sangat menarik dikaji dan di abadikan.

Suasana tawasul di Makam Sunan Muria Kudus (Foto: Condong Online)

Salah satu mahasiswa menyebutkan “Dengan berkeliling mengunjungi serta berjiyarah ke makam para wali ini saya merasa tenang, takjub sekaligus terharu dan merasa beruntung dapat mengunjungi makam para wali-wali Allah. Mudah-mudahan ilmu serta pengalaman yang kami dapatkan selama perjalanan ini dapat bermanfaat dan mendapatkan keberkahan, Aamiin.”

Praktikum lapangan jiyarah makam Walisongo dan makam para wali-wali lainnya di daerah Jawa Tengah ini alhamdulillah berjalan dengan lancar. Dengan terlaksananya kegiatan ini, Kaprodi SPI STIABI Tasikmalaya telah melakukan kerjasama dengan situs makam di Mantingan, Jawa Tengah yakni makam Nyi Kalinyamat dan Sunan Hadiriin.

News and Event / News    Dibaca 117x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah condong online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website