Ciri-ciri Masyarakat Madani

Gambar diambil dari http://static.ibnlive.in.com/ibnlive/pix/sitepix/07_2011/civil-society-180711.jpg

Oleh: Agus Riyadi, S.Pd.I*

Jika kita berbicara tentang masyarakat maka lebih luasnya lagi, kita harus mengkaji tentang peradaban "tamaddun". Sebuah peradaban tidak akan berdiri tanpa individu. Individu-individu inilah yang membentuk suatu komunitas, komunitas membentuk masyarakat dan kumpulan dari masyarakat akan membentuk suatu peradaban. Peradaban Madani "Madinah" di bentuk dari masyarakat yang Madani, yaitu masyarakat yang faham akan peradaban madani.

Terdapat lima ciri-ciri dari masyarakat madani yang di bentuk Rasulullah berdasarkan QS. al-Fath (48): 29. Jikaciri ciri ini terdapat pada masyarakat Indonesia, maka sejatinya Indonesia sudah menjadi negara yang berperadaban islami dengan masyarakat Madani. Ciri-ciri tersebut akan dijelaskan sebagai berikut;

Pertama, Menegaskan tentang pemilihan pemimpin. Setiap muslim di dunia ini wajib untuk memilih pemimpin muslim yang baik. Hal ini  terjadi pada zaman kepemimpinan Rasulullah Shallaahu `alaihi wasallam. Beliau tidak hanya memimpin pada urusan negara saja namun beliau juga yang selalu menjadi Imam shalat di masjid. Selain itu, beliau selalu mengajak rakyatnya untuk selalu mendirikan shalat berjamaah, karena di dalam shalat berjamaah tersebut akan membawa keberkahan pada negeri.

Selama masih diberi pikiran, shalat harus tetap ditegakkan.

Kedua, saling menyayangi atau mengasihi antar sesama. Hal ini sesuai dengan Sabda Rasulullah: "Barang siapa yang mengasihi makhluk yang ada di muka bumi, maka ia akan dikasihi oleh yang ada di langit". Oleh karena itu hendaknya seorang Muslim mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya.

Ketiga, Senantiasa melihat ruku` dan sujud dimanapun berada karena ia memiliki arti yang begitu mendalam yaitu ketika kita hendak mendirikan shalat. Artinya, seorang Muslim mesti faham akan kehidupan di dunia yang sementara dan berputar silih berganti. Terkadang dalam keadaan berdiri, artinya seseorang sedang berada dalam suka atau bahagia maka sejatinya manusia dituntut untuk bersyukur. Sedangkan dalam keadaan sujud, artinya seseorang sedang berada dalam duka atau terkena musibah, maka sejatinya manusia dituntut untuk bersabar.

Keempat, Mencari rizki (karunia Allah). Sebagai manusia alangkah baiknya apabila kita selalu berusaha untuk mencari rizki yang halal dan thayib. Karena itu semua akan mendatangkan keberkahan. Seorang Muslim sejati hendaknya tidak berpangku tangan menunggu rizki tsb datang menghampiri, meskipun Allah telah menjamin setiap makhluk Nya yang berada di langit maupun di bumi sudah ditetapkan rizki nya oleh Allah, bukan berarti manusia lalai dan tidak berusaha untuk mencari rizki Allah. Singkatnya, manusia harus berusaha dan berupaya serta berikhtiar untuk mencari Rizki yang halal dan membelanjakan di jalan Allah SWT.

Kelima, Mengaktualisasikan shalat dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita melihat adanya tanda-tanda bekas sujud diwajah seseorang, maka shalatnya memberikan pengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang tidak hanya melakukan shalat hanya sebatas ritual saja, melainkan tujuan dari didirikannya shalat adalah mencegah dari perbuatan yang buruk. "Inna shalata tanha `anil fasha wal munkar". Wallahu Tabaraka Wataala A`lam Bisshawab

 *Postgraduate Program University of Darussalam Gontor

 

Dunia Islam / Nasional    Dibaca 2.153x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah condong online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website