Pendidikan Akhlak Refleksi Idul Adha

Ilustrasi: Journal Star

Hakikat Berkurban

Secara etimologi berkorban adalah suatu sikap mendasar manusia yang diwujudkan dengan memberikan sesuatu yang dimilikinya kepada orang lain yang membutuhkan. Dan dalam terminologi Islam, korban yang dikaitkan dengan peristiwa Idul Adha berarti menyembelih binatang korban dan membagikan dagingnya kepada fakir miskin serta sanak keluarga sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dari pengertian tersebut, dapat kita ketahui, bahwa melalui perintah berkorban, Allah mengajarkan agar hubungan sosial antar sesama manusia tetap terjalin dalam suasana kasih sayang, yang kuat membantu yang lemah, dan yang kaya membantu yang miskin.

Dan yang lebih dari itu, Allah ingin menanamkan nilai-nilai ketakwaan manusia agar kualitas dirinya semakin meningkat, sehingga mampu menghadapi segala tantangan. Sebab substansi dari ajaran berkorban bukan terletak pada darah dan daging domba yang kita sembelih, tetapi pada ketakwaan yang tertancap dalam diri kita, yang menggerakkan hati dan kalbu untuk selalu rela berkorban dengan segala apa yang kita miliki di jalan Allah swt.

 Pendidikan Akhlak Refleksi Idul Adha

Sosok Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail adalah sosok manusia yang berkualitas tinggi. Dengan pengertian, bahwa manusia berkualitas adalah manusia yang hidupnya penuh dengan pengabdian dan pengorbanan yang bersendikan pada unsur-unsur keikhlasan, kesabaran, dan keseimbangan dalam berpikir dan bertindak. Keempat unsur tersebut merupakan sebagian dari dasar-dasar untuk menjaga hubungan baik dengan Allah dan manusia, yang dengan istilah lain disebut dengan berakhlaqul karimah atau esensi dari pendidikan akhlak.

Dalam upaya meningkatkan kualitas bangsa, kita memerlukan manusia yang berbudi tinggi, berakhlak mulia. Namun sangat disayangkan, bersamaan dengan kampanye peningkatan kualitas bangsa, kita justru menyaksikan gejala-gejala krisis akhlak yang sangat memprihatinkan.

Umat manusia saat ini sedang mengalami pergeseran nilai dan krisis akhlak akibat teknologisasi kehidupan, ledakan informasi yang melonjak dan arus globalisasi yang melanda masyarakat modern. Rasa malu, hormat, cinta kasih sedikit demi sedikit mulai hilang dalam diri kita, berganti dengan sifat-sifat hedonistik, halal dan haram menjadi kabur. Kita tidak lagi menghormati seseorang karena akhlaknya, tetapi karena kekayaan dan pangkatnya. Alhasil timbulah kekeringan spiritualitas.

Problematika gersangnya spiritualitas tidak hanya terjadi pada manusia modern di barat saja, melainkan menjadi polemik dalam kehidupan dan peradaban masyarakat muslim. Hal ini terjadi karena pemikiran mengenai perubahan, peningkatan dan evolusi menjadi sifat yang permanen dan senantiasa ada didalam manusia beserta hal-hal yang sangat dibutuhkan oleh batin atau spiritual manusia hampir dilupakan.

Selain itu, masyarakat Muslim lambat laun melupakan tugas utama diciptakannya manusia, yaitu ibadah kepada Allah SWT, sebagaimana firman-Nya (yang artinya), “Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah hanya kepada-Ku”. Oleh karena itu, kita hendaknya benar-benar memperhatikan masalah ibadah serta mengetahui unsur-unsur yang menjadikan ibadah kita menjadi baik dan benar.

Dampak keadaan seperti itu pada lapisan masyarakat bawah adalah meningkatnya tindak tanduk kejahatan, berupa pembunuhan sadis, perampokan, perkosaan, perkelahian remaja, dan sebagainya. Sedangkan pada lapisan masyarakat atas tampak pada maraknya praktek korupsi, monopoli, dan lain sebagainya. Anak-anak muda yang kita harapkan menjadi tulang punggung negara di masa mendatang telah termakan oleh budaya-budaya asing yang materialistis.

Krisis akhlak itulah tantangan paling berat yang kita hadapi saat ini. Sebagai umat Islam, sudah selayaknya kalau kita kembali kepada nilai-nilai Alquran dan sunah Rasul sebagai solving problem. Pendidikan penanaman akhlak merupakan upaya ke arah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan lahirnya perbuatan-perbuatan yang bernilai baik dari seseorang.

Dalam pendidikan akhlak ini, kreteria benar dan salah untuk menilai perbuatan yang muncul merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunah sebagai sumber tertinggi ajaran Islam. Dengan demikian dalam diskursus pendidikan Islam, pendidikan akhlaklah yang mampu mengatasi mengatasi krisis moral tersebut.

Dalam pendidikan nasional kita mengenal konsep pendidikan karakter. Jika dikaji lebih mendetail akan terlihat bahwa pendidikan karakter belum sepenuhnya dapat dijadikan rujukan untuk mengatasi masalah keringnya spiritualitas yang ada di negara ini. Karena hanya menitikberatkan kepada nilai-nilai dan norma-norma kemanusiaan saja. Hanya mencetak manusia yang mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (loving the good), dan melakukan kebaikan (doing the good) kepada sesama makhluk, tapi minim akan ketauhidan ilahiyah.

Lebih jauh lagi secara tidak langsung akan menjauhkan kita dari sang Kholiq (Allah). Dalam pendidikan karakter juga menganggap bahwa agama bukan suatu yang mendasar untuk menciptakan manusia yang baik apalagi di negara yang plural. Maka hanya dengan pendidikan karakter saja, justru akan membahayakan bagi akidah umat Islam.

Sehingga, pendidikan akhlak yang terdapat dalam pendidikan Islam akan menyempurnakan semua itu. Karena berakhlak adalah berpikir, berkehendak, dan berperilaku sesuai dengan fitrahnya (nurani) untuk terus mengabdi kepada Allah. Jadi bukan hanya menjadi manusia baik yang berberkarakter tapi juga berakhlak mulia. Dalam hal ini idul adha sejatinya menjadi refleksi penanaman pendidikan akhlak untuk mewujudkan Indonesia yang adil, beradab, religius dan sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara yang berkualitas. Wallahu a’lam bi al-showab.[]

Tips and Inspiration / Motivasi    Dibaca 1.454x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website