Menyingkap Tabir Hidayah Bagian 1

Ilustrasi: asiatrvl.com

Hidayah merupakan anugerah terbesar yang diberikan Alloh SWT kepada umat manusia sebagai manifestasi sifat rahman dan rahiim-Nya.

CONDONG-ONLINE-Kita selalu percaya bahwa hidayah akan menghampiri setiap jiwa insan yang haus akan Ilmu-Nya. Akan tetapi, tidak semua manusia mendapatkan secara percuma, dibutuhkan usaha keras dan ketaatan dalam menyingkap setiap tabir kemahaan-Nya. Dalam hal ini manusia dituntut untuk bertaqwa dan menapaki kehidupan secara billah, fillah dan lillah[1] untuk meraih Mardhotillah dan menggapai surga Firdaus sebagai tempat pulang yang dinantikan segenap penjuru langit dan bumi.

            Pemikiran tasawuf Al-Ghazali berhasil mengungkap kerancuan ilmu kalam dan filsafat yang dinilai sebagai penyimpangan ajaran dan sunnah Rosulullah SAW. Gagasan tersebut berakar dari kehidupan intelektual sang Imam dalam memaknai kehidupan dan kebahagiaan.

Pada dasarnya kebahagiaan hakiki tidak dicapai melalui rasionalitas manusiawi, akan tetapi, kebahagiaan ditempuh melalui jalan ketauhidan dan keihsanan manusia dalam berakhlaq, baik kepada Alloh maupun dalam muamalah dan aspek masing-masing individu. Di dalamnya terdapat adab sehari-hari sejak bangun tidur hingga tidur kembali, dan anjuran mengisi waktu luang dengan kebermanfaatan bagi semesta.

            Dalam bukunya “Bidayatul Hidayah”, Imam Ghazali menguraikan rinci berbagai amalan dan doa serta dzikir dalam menyingkap rahasia pengabdian kepada tuhan Sang Maha segalanya. Konsep ketaatan yang dijelaskan sangat relevan dengan kehidupan abad millenium ini, yang sejatinya manusia mulai mengaburkan agama dalam kehidupannya.

            Islam tidak hanya bergerak dalam tatanan praktis, namun juga dalam tatanan konseptual dan filosofis sebagai gambaran refresentasi kebermanfaatan umat dalam segala aspek kehidupan.

Dalam mengisi waktu luang, Islam mengajarkan untuk mengisi dengan tiga hal : (1) mencari ilmu, (2) beribadah dan berdzikir, dan (3) berbuat kebaikan pada sesama. Ketika kita taat dalam menjalankan ibadah baik mahdoh maupun ghoir mahdoh[2], maka senantiasa akan termasuk golongan salim (selamat) dan rabih (beruntung). Golongan salim dikaitkan pada muttaquun yaitu menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, contohnya menjalankan shalat dan puasa. Golongan raabih yaitu para muhsinuun yang senantiasa menebar manfaat kepada umat manusia.

            Mahasiswa dengan titel agent of change, diharapkan untuk menebar segenap kebaikan dalam lingkungan sekitarnya. Bahasa kerennya, “kontribusi, kolaborasi dan sinergi” – Imam Ghazali mengingatkan para akademisi untuk tajdidun niyyat (perbaharui niat) dalam meraup segala ilmu dunia dan akhirat. Ia memaparkan keadaan seorang akademisi dalam menuntut ilmu dalam tiga jenis seorang thalib.

            Pertama, akademisi raabih atau beruntung yaitu seseorang yang mencari ilmu untuk “Mardhotillah”, keadaan ini terjadi ketika seorang akademisi memaknai setiap ilmu yang didapat hanya untuk mengenal Kemahaan – Nya.

Kedua, akademisi linglung[3] yakni seorang tholib yang mengaharapkan duniawi semata, inilah yang terjadi pada sebagian umat muslim, mereka mencari ilmu tetapi mengharapkan kedudukan, kepopuleran dan materi semata. Akademisi tersebut dikatakan beruntung jika dalam jalan menuntut ilmu ia menyadari perbuatannya salah, kemudian “bertaubat” kembali memperbaharui niatnya dan menjadikan segala macam titel duniawi sebagai media untuk makrifat dalam merenungi setiap kehidupan yang dialaminya.

Ketiga, akademisi yang rugi yaitu ketika seseorang bercampur tangan dengan setan dalam menuntut ilmu. Golongan terakhir ini berdasarkan sabda Rosulullah SAW dijuluki sebagai ketakutan dan fitnah akhir zaman selain Dajjal, mereka cenderung menuruti hawa nafsu dan bisikan syetan serta menjadikan ilmunya sebagai jalan untuk memperoleh segala macam kesenangan duniawi tanpa mempertimbangkan kemaslahatan umat. Bersambung...[Rizki Iramdan Fauzi]

 

            Ghazali, Imam. (1998). Bidayatul Hidayah : Menggapai Cahaya Hidayah. (Terjemahan Abiza el Rinaldi dan Uswatun Hasanah), (2013). Lebanon : Pustaka Wilayah.   

 



[1] Kondisi hamba dalam memaknai hidup dengan, dalam dan karena Allah SWT.

[2] Ibadah yang melalui perantara manusia, seperti zakat, sedekah dan infaq.

[3] Keadaan membingungkan manusia.

Tips and Inspiration / Motivasi    Dibaca 685x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website