Jangan Sampai “Ikhlas” Hanya di Mulut Saja

Ilustrasi: condong-online/lena

Seringkali dengan mendengar seseorang berkata “Saya ikhlas”, kita akan seketika percaya bahwa memang apa yang lidahnya utarakan, sama dengan apa yang hatinya gumamkan. Padahal tidak sesederhana itu.

CODONG-ONLINE – Ikhlas berarti berbuat sesuatu tanpa mengharap pamrih (lillah). Ikhlas berarti merasa bertanggung jawab pada Allah SWT serta ingin bisa menggapai ridha-Nya. Dengan ikhlas, seseorang tidak akan terpengaruh dorongan materi apa pun untuk bekerja. Namun pada kenyataannya, kebanyakan manusia selalu sulit untuk mewujudkannya. Bahkan seringkali malah memalsukan kekikhlasannya dengan mengumbar kata “ikhlas” di lidah.

“Nggak apa-apa kok, saya ikhlas.”

Kalimat tersebut sudah sangat lumrah di telinga kita. Padahal sejatinya ikhlas adalah rahasia hamba dengan Tuhannya. Maka keliru jika menganggap seseorang telah ikhlas hanya dengan mendengar ucapan seperti tadi. Meski begitu, setidaknya keikhlasan seseorang dapat terlihat dengan sendirinya lewat beberapa hal. Diantaranya;

Perilaku dan Tindakan dalam Berbuat Baik

Seseorang yang telah benar-benar ikhlas, maka ia tidak akan berbuat sesuatu kebaikan hanya untuk mendapat pujian atau pamrih. Ia juga tidak akan menyebut-nyebut kebaikan yang telah dilakukannya.

Ekspresi Wajah dan Cara Bertutur

Seseorang yang hanya mengucap ikhlas di mulut saja, akan terlihat dari rona wajah yang terkesan tidak sumringah. Wajahnya akan terlihat ketus, cemberut atau memalingkan muka. Begitu pula saat berbicara, biasanya orang yang belum benar-benar ikhlas, akan banyak menggerutu tanda ia masih belum bisa menerima. Atau bisa pula nada suaranya meningkat dan nyaris seperti tengah membentak.

            Sayyidina Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata bahwa orang yang ihlas tidak boleh berniat untuk mendapat pujian, atau diberikan ucapan terimakasih. Karena setiap amal ibadah pada hakikatnya adalah kita tengah berinteraksi dengan Allah, sehingga harapan yang ada hanyalah mengharap ridha Allah SWT.

            Rasulullah SAW. Pun berkata “Barangsiapa memberi karena Allah, menolak karena Allah, mencintai karena Allah, membenci karena Allah dan menikah karena Allah, maka sempurnalah imannya. (HR. Abu Dawud).

            Maka, dari pesan tersebut, kita dapat mengambil ibarah atau pelajaran bahwa ikhlas memang tidak boleh tergantung apa pun, namun murni karena Allah. Untuk itu, beberapa hal yang perlu dilakukan agar terhindar dari ikhlas palsu adalah;

Meluruskan Niat saat Bebuat Kebaikan

Saat hendak berlaku kebaikan, maka yang paling utama adalah meluruskan niat. Niat kita sebagai ummat Islam dalam beribadah hanyalah untuk Allah semata.

Jangan Sekali-kali Berharap Apa pun Saat Bebuat

Sebaiknya selama berbuat kebaikan, hindari terlalu banyak berharap. Terutama berharap pada ucapan terimakasih dan pujian orang lain. Karena meski pun awalnya memang bekerja dengan ikhlas, namun jika apa yang diharapkan tidak terwujud, hal itu mampu menurunkan kadar keikhlasan atau bahkan membuatnya runtuh. 

Ucapkan Ikhlas di Hati Saja

Agar menghindari terkikisnya kekikhlasan, sebaiknya tidak mengumbar rasa ikhlas di mulut. Cukup dengan menunjukan sikap bahwa kita memang telah ikhlas. Hal ini tentu lebih efektif dan tidak terkesan riya.

            Begitulah sekelumit problema terkait ikhlas yang seringkali terlihat abu. Karena terkadang mulut dan hati berlainan. Maka alangkah baiknya kita selalu bertaqwa kepada Allah agar mendapat pertolongan dan bimbingan-Nya terutama dalam beribadah dan menggapai keridhaannya. Wallahu a’lam. [Lena]

Tips and Inspiration / Motivasi    Dibaca 1.029x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website