Cara Mendidik Ála Luqman

Ilustrasi: Dreamstime.com

Oleh, Elin Nurmalina, SE.Sy., M.Pd.*

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar". (QS. Luqman (31):13)

CONDONG-ONLINE - Pada ayat di atas Allah SWT mengisahkan tentang hamba-Nya yang bernama Luqman Al-Hakim. Terdapat berbagai pendapat ulama mengenai asal-usulnya, namun yang menjadi pokok pembahasannya adalah intisari ajararan yang ia wasiatkan kepada anaknya, yang diabadikan Allah SWT dalam al-Quran yang nama suratnya sesuai dengan namanya, pada ayat 12-19.

Adapun yang menjadi wasiatnya yaitu:

pertama, jangan berbuat musyrik, yaitu menyekutukan Allah SWT karena kemusyrikan adalah perbuatan dzalim yang sangat besar. Disebut sebagai perbuatan dzalim yang sangat besar karena pada hakikatnya selain Allah SWT adalah mahluk semata yang mutlak sangat membutuhkan Allah SWT.

Kedua, keharusan berbuat baik kepada orangtua, dengan diingatkan bagaimana kepayahan ibu dalam memelihara anaknya, sehingga kewajiban berikutnya disebutkan keharusan untuk bersyukur kepada Allah SWT dan kepada orang tuanya. Dari keduanyalah seorang anak berada di dunia ini.

Ketiga, kewajiban menolak ajakan orangtua jika bertentangan dengan ajaran agama, tetapi dengan sikap yang sangat sopan dan menunjukan rasa kasih sayang. Sebagaimana yang dicontohkan sahabat Sa’ad ketika beliau diancam oleh ibunya dengan cara mogok makan, agar beliau kembali pada keyakinan lamanya. Namun beliau menunjukan keteguhan sikapnya bahwa beliau tetap menyayanginya tapi tetap tidak akan keluar dari agama Islam, walaupun ibunya memiliki 100 nyawa.

Keempat, keharusan mengikuti jalan orang-orang yang beriman, walau bagaimana pun berat rintangan dan tantangan menempuh jalan ini. Karena hanya jalan inilah satu-satunya  jalan yang dapat menyampaikan pada tujuan hidup sejati, yaitu kebahagian abadi di dunia dan di akhirat. Kepayahan ini sanggup ditanggung karena mempunyai keyakinan bahwa di akhirat semua akan kembali kepada Allah SWT, yang mana pada hari tersebut segala amal yang pernah dilakukan di dunia akan diberitahukan dan dibalas oleh Allah SWT, sehingga kepayahan dalam menempuh jalan ini menjadi lebih terasa ringan.

Kelima, keyakinan tentang ke-Maha Telitian  Allah SWT. Yaitu bahwa segala yang terjadi di alam ini tidak akan pernah terlepas dari pengawasan  Allah SWT, walau hanya sebesar dzarrah (seumpama sebesar biji sawi) semua akan ada perhitungannya. Maka dengan keyakinan ini tidak ada kebaikan yang diabaikan sekecil apapun itu. Sebaliknya, tidak akan ada kejelekan sekecil apapun yang dikerjakan, karena jelas  Allah SWT akan membalasnya.

Keenam, kewajiban melaksanakan salat, berbuat makruf mencegah kemunkaran dan bersabar atas apapun yang menimpa dalam dinamika kehidupan. Dengan melaksanakan salat, seorang hamba terus menjaga hubungannya dengan penciptannya, sehingga jalan hidup yang ditempuhnya adalah jalan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nya.

Maka dengan demikian akan kokohlah jiwanya, sehingga akan timbulah keberanian menyampaikan kebenaran dan menegur hal-hal yang menyangkut kemunkaran, walaupun pada keduanya mengandung resiko yang tidak sedikit, terkadang menyakitakn bahkan tidak jarang menguras emosi, menuntut kesabaran yang berlipat-lipat.

Namun berkat adanya hubungan yang intens dengan penciptanya yang merupakan penguasa alam, maka semua itu sanggup dijalaninya, jikalaulah tidak ada hubungan ini tidak akan ada kesabaran. Jika tidak ada kesabaran, maka tidak akan tercapai apa yang menjadi tujuan, tidak akan sanggup menghadapi kerasnya perjuangan.

Ketujuh, jangan bersikap sombong, membanggakan diri baik ketika bergaul dengan manusia ataupun dalam cara berjalan. Karena pada hakikatnya orang yang sombong adalah orang yang kerdil jiwanya. Karena kekerdilan inilah maka ia berusaha menampakkan sikap membangga-banggakan diri, lagi pula sesempurna-sempurnanya manusia tidak ada seorang pun yang berhak berlaku sombong, karena sifat itu hanya pantas dinisbatkan kepada  Allah SWT. Bahkan dampaknya yang sangat bahaya adalah sebagaimana hadits yang diterima oleh ‘Alqamah dari Abdullah Bin Mas’ud bahwa,

“Tidaklah masuk ke dalam surga barangsiapa yang ada dalam hatinya sebesar dzarrah dari ketakaburan, dan tidaklah akan masuk ke dalam neraka barang siapa yang di dalam hatinya sebesar dzarrah dari keimanan”.

Kedelapan, bersikap sederhana dalam berjalan dan dalam berbicara. Jangan terburu-buru jangan pula bermalas-malasan. Apabila terburu-buru akan merasa cepat lelah dan sebaliknya bila terlalu lamban akan membuang-buang waktu. Maka mesti bersikap sederhana dalam berjalan atau ketika mengadakan perjalanan. Begitupun dalam berbicara harus sederhana tak perlu berteriak-teriak karena hal tersebut akan mengganggu orang lain dan dianggap seperti suara keledai yaitu hewan yang suaranya dianggap paling jelek. Jangan pula terlalu pelan sehingga orang lain tidak memahami apa yang dibicarakan.

Inilah pokok pangajaran Luqman Al-Hakim kapada putranya, yang sengaja Allah abadikan dalam      al-Quran. Karena pada hakikatnya apa yang Luqman ajarkan kepada anaknya adalah pokok-pokok pendidikan anak Muslim, yang meliputi masalah tauhid, cara bersikap seorang anak terhadap orang tuanya, keyakinan adanya pembalasan pada setiap yang dikerjakan tak luput dari pengawasan Allah. Adab sopan santun dalam pergaulan sesama manusia, kesemuanya merupakan metode pendidikan, karena pada setiap ajarannya, Luqman Al-Hakim selalu menjelaskan pula alasannya.

Selain mengandung pelajaran tentang pokok pendidikan anak, di sisi lain, tentang kisah Luqman pun memberikan pembelajaran bahwa kesalehan ayah dapat berdampak positif kepada anaknya, karena keteladanan dalam kebaikan melekat kuat dari hasil interaksi dengan orang terdekat, yaitu ayahnya sendiri.

Dapat disimpulkan bahwa pokok pendidikan yang ditekankan oleh Luqman terhadap anaknya meliputi 4 hal yaitu dengan akidah, ibadah, akhlak terhadap orang lain dan akhlak terhadap diri sendiri.[]

 *)Penulis adalah guru Tafsir di Pesantren Condong

Tulisan ini dimuat di Majalah Condong edisi 16

Kajian Islam / Tafsir    Dibaca 96x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website