Refleksi Isra Mi’raj

Ilustrasi: ayunabilla.wordpress.com

 

Oleh, Rizki I Ramdan

Yang paling jauh di dunia ialah masa lalu

            Yang paling ringan di dunia adalah meninggalkan sholat

  Yang paling berat di dunia yakni nafsu.

CONDONG-ONLINE - Penggalan beberapa pesan Imam Al- Ghazali tentang kehidupan dunia seolah-olah hanya menjadi nasihat yang ringan namun ngena. Faktanya, di zaman sekarang nasihat-nasihat agama tak lebih dari dongeng para ustadz dan kyai di masjid. Beda lagi konteksnya kalau sudah di kehidupan sosial, bahkan kerap dihindari karena takut dikatakan so alim, agamais, dan sholeh. Padahal apabila kita renungi dan pahami, maka 3 nasihat di atas merupakan sebuah nasehat hidup yang penting dan mendalam. Sejatinya nasehat tersebut takkan pernah lepas dari diri manusia sebab masa lalu, sholat dan nafsu merupakan tiga unsur yang mendarah daging dalam keseharian manusia.

            Masa lalu takkan pernah menghampiri lagi, namun masa depan ada di depan mata dan pasti kita akan mengalaminya. Begitu juga dengan sholat, banyak orang yang lalai dan begitu enteng meninggalkan sholat, bahkan sebagian orang menganggapnya merupakan ritual ibadah saja bukan kewajiban atau kebutuhan. Perilaku kita dalam meninggalkan sholat merupakan masa lalu yang harus dijadikan refleksi diri dan kita dianjurkan untuk memperbaikinya.

            Mari kita sejenak menggali realita pada 1400 tahun lalu, di malam 27 Rajab sang Suri Tauladan Junjungan Umat diberikan kesempatan berharga dan langka serta terkesan utopis. Rasulullah Muhammad SAW diberangkatkan oleh Allah pada malam hari dari rumahnya di Masjidil Haram, Mekkah menuju Masjidil Aqsha di Palestina yang disebut Isra’. Kemudian melintasi tujuh lapis langit hingga sidratul muntaha dalam ruang dan waktu selama 3 ¼ malam atau dinamakan Mi’raj. Mustahil? Wallahu A’lam, secara akal memang terkesan tidak logis, teknologi era millenium ketiga pun akan sulit mencapai itu. Namun ini bukan tentang batas akal manusia tapi batas aqidah manusia dalam memaknai peristiwa Isra’ Mi’raj.

            Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Isra ayat 1 yang artinya: Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hambanya di malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda kebesaran kami. Sesungguhnya Dia adalah maha mendengar lagi maha mengetahui.

            Hikmah mendalam yang terkandung dalam kalam Illahi di atas, setidaknya ada 2 hikmah dalam firman Allah tersebut. Pertama, kita dianjurkan untuk Isra’ yang berarti melakukan perjalanan baik fisik maupun spiritual dalam merenungi semua fenomena di alam dunia ini. Kedua yakni kewajiban sholat kepada manusia. Sholat merupakan refleksi semua aktivitas sosial dan ibadah manusia. Sholat adalah tiangnya agama, sholat juga merupakan aktivitas manusia yang pertama kali diperhitungkan oelh Allah di akhirat kelak. Oleh karena itu manusia diharapkan menunaikan shalat dan menjadikannya sebuah kebutuhan jiwa dan raga.

            Sejatinya manusia senantiasa melakukan isra’, ia mengembara dan mencari kebenaran hakiki dalam pekatnya gemerlap dunia. Meskipun cengkraman nafsu yang membara, setiap manusia bertarung melawan berbagai godaan dunia salah satunya rayuan untuk meninggalkan sholat. Kita harus kuat dan mampu melawannya sebab melawan nafsu untuk sholat merupakan jihad terbesar dan sholat merupakan mi’rajnya kaum muslimin. Sudah saatnya kita jadikan sholat sebagai kebutuhan hidup.[]

Kajian Islam / Sejarah Islam    Dibaca 1.024x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website