Napak Tilas Setting Novel Kinanti Bersama Komunitas T(j)inta di Yogyakarta

Dok. condong-online/Lenasayati

Buat pecinta novel, khususnya novel-novel karya TASARO GK pasti tak asing dengan nama Kinanti. Itu karena Kinanti adalah salah satu judul novel bestseller karya penulis kondang ini. Nah, setting tempat yang ada dalam novel itu sebagian berlatar di Yogyakarta, terutama Gunung Kidul.

CONDONG-ONLINE - 11-12 Desember kemarin komunitas milik TASARO yang bernama Keluarga T(j)inta (baca: Cinta Tinta) mengadakan acara Olimpiade T(j)inta. Isi acara ini tak lain adalah gathering para anggota, camping, kelas menulis, napak tilas dan tentu saja jalan-jalan, hehe.

Menariknya, tanggal 11-12 dipilih karena bertepatan dengan Maulid Nabi SAW. Lah, apa hubungannya? Eits sebentar, kalau yang tahu, TASARO GK ini telah melahirkan novel terbarunya yang berjudul Trilogi “Muhammad SAW Sang Penggenggam Hujan”. Ini novel lho, bukan buku-buku sejarah semacam sirah nabawiyyah. Nah, untuk memperingati maulid nabi, maka Keluarga T(j)inta mengadakan acara tasyakuran lewat bedah novel ini.

Hari pertama, saya dijemput dari terminal menuju venue utama yaitu di daerah Sleman. Tempatnya berupa rumah komunitas yang dinamakan Omah Sawah. Mungkin karena letaknya samping pesawahan. Setelah semua anggota dari berbagai daerah tiba, ketua panitia mulai meminta seluruh anggota mengenalkan diri, lalu ia membagi kami ke dalam beberapa kelompok yang tiap kelompoknya berisi 4 orang. Dan disengaja atau tidak, kelompok saya semuanya orang Sunda.

Dok. condong-online/Lenasayati (seluruh peserta berfoto di Omah Sawah)

Siangnya, setelah makan, kami berangkat dengan bus menuju setting utama novel Kinanti, yaitu di daerah Gunung Kidul. Tujuan kami adalah Embung Nglanggeran, yaitu sebuah desa yang di atasnya terdapat danau buatan. Sebelum menuju Embung, kami sempat terpukau dengan bukit bintang yang dilewati. Kami seakan berada di ketinggian dan mampu melihat hamparan landscape indah di bawah.

Setiba di Embung, tugas pertama tiap kelompok adalah berfoto dengan latar tempat di embung. Yang paling bagus, akan dapat poin. Dan tentu saja kami jeprat-jepret sebanyak-banyaknya, karena Masya Allah pemandangan dari atas embung ini luar biasa indah. Kata temen saya yang orang Jogja asli, Embung ini berguna juga untuk mengairi lading-ladang di bawah bukit milik penduduk setempat.

Dok. condong-online/Lenasayati (Saya dengan sahabat karib, a Kiki di Embung Nglanggeran)

Dok. condong-online/Lenasayati (Saya dengan kelompok di Embung Nglanggeran)

Selanjutnya kami menuju pantai Nguyahan. Tadinya mengharap sekali dapat sunset, tapi malah kemagriban di jalan, hehe. Setibanya di sana, kami sudah disiapkan tenda untuk tiap kelompok. Yang unforgettable itu saat dinner di tepi pantai, sambil menyantap ikan bakar dan sambal.

Setelah dinner, kami shalat isya sambil menjamak magrib yang sudah lewat. Barulah sekitar pukul 20.00 malam, kelas menulis digelar. TASARO selaku narasumber utama, memberikan kuliah menulis yang disajikan dengan berbagai kuis menarik sehingga membuat peserta tidak jenuh.

Tengah malam, sambil memegang lilin, kami melingkari api unggun. Sebelum menyalakannya, salah satu panitia dan TASARO mengisahkan beberapa cerita tentang Nabi Muhammad SAW. Barulah seluruh anggota menyalakan api unggun dengan lilin. Tapi saya tidak bias ikut sampai akhir karena alergi kambuh. Yang saya inget sebelum terlelap istirahat, masih terdengar suara mbak Mini GK (penulis) melantunkan puisinya.

Resiko tidur di tenda, karena malamnya sempat hujan, akhirnya airnya agak merembes ke dalam. Alhasil, tas dan beberapa baju pun basah, hehe. Tapi saat pagi tiba, kami semua lupa akan hal itu. Karena langsung terpukau dengan keindahan pantai nyuyahan.

Setelah makan pagi, kami sempat melakukan pemanasan. Baru setelahnya setiap kelompok beradu game di tepi pantai. Dan Alhamdulillahnya kelompok saya menang, padahal lawan kelompom cowok juga, hehe. Katanya suara saya kenceng amat, bikin yang lain nggak konsen, hehe. Maafkan.

Dok. condong-online/Lenasayati (suasana perkemahan kami di tepi pantai Nguyahan)

Dok. condong-online/Lenasayati (sebagian peserta berfoto dengan latar pantai Nguyahan)

Dok. condong-online/Lenasayati (pantai Nguyahan dilihat dari atas)

Siangnya kami menuju pantai Kukup yang juga masih menjadi latar novel Kinanti. Tapi kalau di sini sih tujuannya napak tilas sama foto-foto saja. Hanya saja, berbeda dari Nguyahan, pantai Kukup lebih ramai dengan wisatwan.

Dok. condong-online/Lenasayati (Saya dengan latar pantai Kukup)

Tak lama di sana, kami meluncur menuju Malioboro. Menariknya, selama perjalanan, ada sastra on the road yang dipimpin TASARO GK. Di dalam bus, beliau memberikan materi kepenulisan dan lagi-lagi kuis. Jadinya perjalanan ini tidak lagi membosankan.

Sesampainya di Malioboro, kami makan siang di angkringan, makan makanan khas Jogja. Setelahnya menuju nol kilometer Yogyakarta dan mengikuti kelas sastra on the street. Kita bersama para penulis nasional itu duduk di emperan jalan dekat lampu merah, sambil nyimak TASARO GK memberikan materi kepenulisan. Mengesankan sekali ya. Meski lalu lalang orang lumayan padat, tapi tetap saja asyik.

Dok. condong-online/Lenasayati (TASARO meberikan kenang-kenangan kepada pemilik Omah Sawah saat makan siang di angkringan dekat Malioboro)

Dok. condong-online/Lenasayati (Saya berfoto di nol kilometer yogyakarta sebelum sastra on the street dimulai)

Acara ini diakhiri kuliah umum tentang dunia penerbitan buku oleh CEO Bentang Pustaka Salman Faridi di Omah Sawah. Saya sangat kepo dan bertanya banyak sama beliau. Karena menurut saya Bentang adalah salah satu penerbit buku yang berani tampil beda dari penerbit lain. Buku-bukunya pun keren pula. Seperti novel Muhammad SAW TASARO GK dan Laskar Pelangi.

Sebelum ditutup, panitia sempat mengumumkan kejuaraan. Dan kelompok saya juara juga ternyata, hehe.

Dok. condong-online/Lenasayati(TASARO memberikan kenang-kenangan kepada CEO Bentang Pustaka Salman Faridi)

Dok. condong-online/Lenasayati (Kelompok saya terpilih sebagai kelompok terbaik, Alhamdulillah. Minus mbak Eni yang lebih dulu pulang)

Dok. condong-online/Lenasayati(seluruh peserta berfoto dengan CEO Bentrang Pustaka Salman Faridi. Peserta sudah tidak lengkap karena banyak yang pulang duluan)

Well, sempat menginap di Omah Sawah, besoknya kami bergegas menuju terminal dan stasiun untuk menuju rumah masing-masing. Kalau saya bilang, ini acara kepenulisan yang tidak biasa dan sangat menyenangkan. Rencananya tahun depan akan kembali digelar, dan berpindah tempat ke Bandung. Buat kamu yang berminat, follow aja akun facebook TASARO GK agar tahu informasi terkini, termasuk tentang acara ini.[Lena]

Community / Matapena    Dibaca 885x


Artikel Lainnya


Beri Komentar

  • TENTANG KAMI

    Majalah online seputar berita dan artikel tentang kajian/dunia islam, tips & inspiration, family, event, radio online, dll.

  • CONDONG-ONLINE.COM

  • Pengunjung Website